Alhamdulillah

Menjadi pemenang adalah kesenangan. Kebahagiaan yang tak terperi, apapun hadiah yang diberikan adalah rizki yang Allah berikan.

Saya menulis..tidak mengharapkan materi melimpah, saya menulis….sebagai proses berlatih dan meninggalkan jejak sejarah tentang keberadaan ide dan pemikiran saya.

Saya hanya ingin mengalirkan seluruh rasa dan fikiran saya pada bentuk yang kongrit…sebuah tulisan menjawab semuanya. Maka tak heran, jika ada ungkapan : “Menulislah maka engkau ada…”

Saya ingin terus berada di atmosfir ini, bersama kepak-kepak sayap yang tak pernah lelah untuk berkeliling…menapaki dunia kebaikan, saya ingin terus belajar….

Kemenangan kali ini makin memacu semangat saya,…meyakinkan diri bahwa saya bisa….

Bismillah …Ya Rabb, berkahilah langkah hamba….

Jadikan pena yang tergores ini sebagai pena penerus kebaikan…

Menjadi ladang pahala yang tak pernah usai….

Filled Under: Tak Berkategori

How’s wonderfull Mrs KUN !


Bu Kun…

Karena Hadirmu !

me, Bu Kun, n dini, kulsum

me, Bu Kun, n dini, kulsum

Namanya Ibu Kun Mardani Murtiningsih, kami biasa memanggilnya Bu Kun. beliau adalah sosok guru yang penuh inspirasi. Saya berjumpa dengan Ibu Kun di Kota Siak Riau.

Saya datang di Siak, karena diterima mengajar di Sekolah SD Islam Unggulan. SD islam Sains Tahfidz Islamic Center “Madinatul Ulum”. Bersama dengan saya berangkat juga 19 Guru dari pulau jawa, yang lolos seleksi dan diterima mengajar disana. Yayasan Islamic Center Siak bekerjasama dengan BPPT sebagai konsultan di Jakarta membuat SD islam yang berbasis Qur’an dan entrepreneur. Guru—guru yang di rekrut dari seluruh Indonesia. Pemda Siak ingin mendatangkan orang-orang yang profesional untuk ikut memajukan pendidikan di siak.

Setiap tahun diadakan perekrutan Guru di Pekan baru dan Jakarta. Saya termasuk gelombang ke -3 perekrutan guru. Kami semua memutuskan meninggalkan karier di kota besar, untuk memberikan konstribusi pendidikan di daerah yang terpencil dan lebih membutuhkan.

Nah, Bu Kun adalah Kepala Sekolah SD Sains Tahfizh. Berjumpa pertama kali dengan beliau membuat saya agak ‘kaget’. Maklum, selama saya mengajar di Jakarta, saya biasa ketemu Kepala Sekolah yang masih Fresh dan muda. Namun Bu Kun….subhanallah di usia yang 61 tahun. Beliau malah memegang amanah yang besar dan tidak mudah.

Sebelum di Siak Ibu Kun mengajar di SD Islam AL Azhar pusat dari tahun 1994-2007. Ibu meninggalkan posisi kemampanan disekolah dan kenyamanan tinggal di kota besar karena sebuah tawaran untuk memimpin sekolah baru yang butuh tangan dingin seorang pendidik berpengalaman. Akhirnya Bu Kun berdiskusi dengan suaminya Bp. Kadir Husein Some, yang seorang guru juga, dan anak-anak beliau Abdul Jabbar, Arya Purnama sari dew, Yuanita Dyah Ayu, Ratu Mira Aulia R.

Anak-anak dan suaminya sangat mendukung Beliau. Namun karena Pak Husein masih mengajar di SMP negeri dijakarta, beliau tidak bisa menemani sang istri baru menyusul setelah pensiun beberapa tahun kemudian. Pertama kali datang Ibu Kun hanya ditemani si bungsu ratu untuk sekolah di SMU Siak.

Karena kekuatan panggilan hati yang tulus sebagai seorang guru, Bu Kun memulai perjuangannya memimpin sekolah Sains Tahfizh dibawah naungan Yayasan Islamic Center Pemda Siak. Bersama dengan Pak Rasyid ( manajer pendidikan ), yang rela meninggalkan kariernya sebagai kepala sekolah di Islamic International School Malaysia. Mereka berdua merintis sebuah sekolah yang diharapkan menjadi cikal bakal pendidikan yang berkualitas di siak. Pak rasyid dan Bu Kun ibarat adik dan kakak. Mereka berdua bersinergi dalam membangun sekolah, menghadapi semua permasalahan dengan kesabaran yang luar biasa.

Bu Kun & Teachers

Bu Kun & Teachers

Saya sangat bersyukur bertemu sosok seperti Bu Kun dan Pak Rasyid. Rabb….ternyata masih banyak pribadi yang mulia yang ikhlas dalam membaktikan dirinya dalam pendidikan. Tak perduli beratnya beban yang harus dipikul……. Bu kun selalu tersenyum. Perhatiannya pada semua guru seperti rasa kasih sayang seorang ibu pada anak-anaknya.

Saya sangat nyaman berinteraksi dengan beliau, saya seperti menemukan sosok Ibu…. beliau bukan hanya kepala sekolah tapi ibu buat semuanya, guru dan murid-murid. Beliau tahu hari ulang tahun semua guru, dan selalu memberikan bingkisan spesial untuk kami. Ibu juga pandai memasak, tak jarang membawa makanan ke sekolah / mengundang kami makan dirumahnya.

Ibu Kun adalah pribadi yang sangat terbuka, beliau senang sekali share dengan para guru untuk mengetahui apakah langkah yang diambilnya sudah tepat. Seperti curhatnya seorang Ibu pada anaknya saja. Maka banyak guru yang memanggil beliau dengan ”Bunda”. Ketika ada guru yang agak ’error’ atau tak disiplin, ibu menegurnya dengan penuh kasih. Dan menghargai keterbukaan teman-teman. Seperti ketika ada beberapa teman yang tidak mengumpulkan RPP pengajaran, Ibu mendatanginya dan menanyakan dimana kesulitannya. Ibu pun membimbing guru tersebut sampai bisa. Pun ketika ada guru-guru yang curhat tentang berbagai permasalahan siswa, sekolah atau rumahnya. Ibu akan membantu mencarikan jalan keluar.

Bu Kun, Kuat dan tegar...!

Bu Kun, Kuat dan tegar…!

Walau tak jarang, kami melihat Ibu menangis atau kadang marah-marah karena beberapa permasalahan yang berat. Namun beliau akan cepat menetralisir keadaan, dan menjelaskan pada kami kenapa ibu sedih / marah. Biasanya kami akan selalu katakan pada Ibu…:

” Sabar ya Ibu,….selalu ada ujian dalam melakukan kebaikan…”

Kami saling memotivasi dan mengingatkan. Baru kali ini saya berjumpa kepala sekolah, seorang pemimpin yang selalu meminta diingatkan untuk melakukan kebaikan dan kebenaran. Diingatkan ketika salah langkah. Beliau sangat menghargai kritik dan masukan para guru. Sebaliknya Beliaupun tak ragu untuk mengkritik atau mengingatkan kami kalau kami salah.

Ibu Kun adalah Ibu buat kami semua. Beliau sering diminta berbagi ilmu ke sekolah-sekolah lain di Siak, mengajar dengan tematik, manajemen kelas, dan sebagainya. Tak jarang Ibu harus menempuh jarak yang sangat jauh menuju sekolah-sekolah dipedalaman Siak, melewati hutan-hutan untuk membagi ilmu pendidikan yang dimiliknya.

Hanya satu yang Ibu inginkan…membagi manfaat sebanyak-banyaknya, untuk orang lain dan dunia pendidikan.

Yah, pribadi emas itu ada disini menemani hari-hari kami setiap hari. Mengajar dan belajar di SD Sains Tahfizh. Terima kasih ibu, yang mengajari kami arti ketulusan dan keikhlasan sebagai pendidik bukan hanya sekedar kata….tapi pengabdian yang bisa diberikan.

Hikmah Kemerdekaan dari Negeri Lancang Kuning

** Merdeka itu ‘Tidak Sendirian’

Merdeka adalah hikmah perjuangan yang harus kita syukuri….namun sayang terkadang maknanya yang hadir dari kisah panjang perjalanan sejarah bangsa ini kurang dirasakan dalam hati…… bahwa kemerdekaan itu hadir melalui keringat deras yang mengucur dari para pahlawan kita……

Dan…bahwa kemerdekaan itu  adalah titik tujuan perjuangan…..yang karenanya,  para pahlawan rela meneteskan darahnya….

Kita….harus mengajarkan pada generasi kita, Kemerdekaan bukanlah sekedar perayaan yang inginnya ‘having fun’…jangan lupa memberi tahu para generasi muda itu bahwa….yang kita rayakan sekarang adalah Tetesan darah para pejuang kita………….

Kita adalah ‘penikmat’ kemerdekaan….. masa yang kita tidak harus meneteskan keringat dan darah untuk mempunyai kebebasan dan kemerdekaan……

Sobat, bagaimana kita bisa mengambil essensi dari MERDEKA ? bahwa didalamnya bukannya…mengajak kita untuk merdeka menentukan kemauan kita sendiri….yang kadang membuat lupa…bahwa kita adalah manusia yang tidak bisa hidup sendiri……

YAh….MERDEKA tak BErarti SENDIRI

Hal ini sangat saya rasakan sejak kepindahan saya di sebuah kota kecil di kepulauan riau……

Saya berangkat kesini sebagai guru baru satu bulan lalu…biasa tinggal di kota besar, kemudian tiba didaerah terpencil yang dikelilingi hutan. Idealisme sebagai pendidik lah yang membuat saya ‘berani’…….

Namun saya mendapat hikmah luar biasa…..walau disini masyarakatnya tidak se’elegan’ masyarakat kota. Namun sangat bersemangat untuk merayakan kemerdekaan denganbersama-sama. Tua muda, dari pemerintah, pejabat sampai rakyat……. sungguh…baru ini saya merasakan dan bisa merayakan HUT kemerdekaan RI dengan semangat….seperti merasakan….hikmatnya perjuangan para pahlawan kita dulu…….

MERDEKA !!!!

Sobat…..inilah kisah perayaan HUT RI di negeri melayu…..

** SEMARAK KARNAVAL DI NEGERI MELAYU

Kemeriahan Karnaval HUT RI

Kemeriahan Karnaval HUT RI

HUT RI kali ini….kami sangat sibuk. Membuat persiapan karnaval yang sangat ‘heboh’.  Para Guru mulai berembug dalam Rapat tentang tema karnaval…kami di bagi 8 sektor. Sektor pendidikan, perhubungan, pertanian, pertenakan, kesehatan, olahraga, dunia islam, tekhnologi. Masing-masing sektor harus menampilkan miniatur karyanya…….

Karnaval ditempat kami…mempunyai pesan yang harus tersampaikan pada masyarakat…tidak sekedar ‘hebohnya’ atau meriahnya….. contohnya seperti sektor kesehatan, para siswa memakai masker ( karena di tempat tinggal kami riau….sering kali kebakaran hutan sehingga menimbulkan asap yang menyesakkan dada….), ditambah dengan tulisan “BEBASKAN RIAU dari KEPUNGAN ASAP”……..

Tim Tekhnology, salah satunya saya….kami membuat roket ….. pesan yang disampaikan adalah..bahwa…”DENGAN TEKHNOLOGI KITA BISA MENJELAJAHI ANGKASA”……..atau seperti pesan dari TIM olahraga yang bola raksasa….untuk mengajak semua warga OLAHRAGA SETIAP HARI….

Sektor perhubungan…tidak mau kalah dengan membuat Pesawat SIAK Airlines….kami berharap kota kami ini suatu saat punya penerbangan dan bandara sendiri. Jadi kami tidak harus berpayah-payah…ke Pekan Baru yang menempuh jarak 4-5 jam perjalanan darat….

Semua sektor berusaha dengan optimal…mempersmbahkan karya terbaik…dan pesan moral yang mudah masyarakat terima. Subhanallah..antusias warga sangat tinggi…ditengah terik sinar matahari, sabtu tgl 16 agustus kemarin…kami berjalan berkeliling kota. Disaksikan seluruh masyarakat dan Bupati serta pemerintah daerah….. masyarakat berdiri disepanjang jalan yang kami lewati…….

Alhamdulillah..perjuangan kami tidak sia-sia…..sekolah kami SD Sains Tahfidz Islamic Center Madinatul Ulum….keluar sebagai juara pertama…… Guru-guru dan para siswa sangat bahagia. Kreativitas dan kekompakan tim mengantarkan kami menjadi juara dalam kurun 3 tahun berturut-turut.

Sungguh…..saya ikut bahagia dan bangga menjadi bagian dari….. masyarakat melayu, yang sangat menjaga tradisi dan kesantunan…..

** Serunya ………….PAWAI OBOR !

Setelah siang hari karnaval….agenda malam hari ada acara pawai. Pawai ini diikuti seluruh instansi pemerintah dan sekolah. Yang unik semua peserta pawai membawa obor. Pawai akan berjalan dari depan Istana Siak Sri Indrapura sampai Balai Adat kira-kira sejauh 5 km.

Pawai Obor HUT RI di Siak

Pawai Obor HUT RI di Siak

Saya tidak ingin melewatkan kesempatan meliput dan mengambil foto serta video…maklum sudah lama saya tidak menjumpai tradisi ini. Iring-iringan masyarakat dengan membawa obor sepanjang 2 km….hmmm kota kecil kami jadi makin bercahaya.Tapi sayang sekali saya belum bisa menampilkan videonya……

** Upacara 17 Agustus di Gedung Bupati Siak

Pagi harinya, kami perwakilan dari sekolah berangkat menyeberang jembatan Siak menuju ke Kantor Bupati untuk mengikuti upacara 17 Agustus. Berikut ini foto-foto kegiatannya :

Kantor bupati siak

Kantor bupati siak

** Kebersamaan dalam pesta rakyat

Setelah upacara, dilanjutkan dengan pesta rakyat di depan Istana Siak. Ada banyak permainan rakyat digelar, mulai dari tarik tambang, panjat pinang, balap karung, dan lain-lain.

Masyarakat siak berduyun-duyun datang untuk menyaksikan lomba…. sangat meriah sekali.

Panjat Pinang Siak

Panjat Pinang Siak

** Learning from Independence Day **

Yah..disinilah saya sekarang, dikota siak yang kecil dengan budaya melayunya. Belajar untuk menjadi seorang guru….guru-guru kehidupan yang tidak terbatas antara ruang dan waktu.

Saya belajar banyak tentang kemerdekaan dan kebersamaan disini,….satu hal yang paling penting adalah..bahwa Kita harus mengisi kemerdekaan ini BERSAMA…tidak SENDIRI…..

Salam


Filled Under: Tak Berkategori

Kisah di balik….”kemenangan”….

Alhamdulillah…thanks a lot Detik.com….karya kecil ini dapat penghargaan juga….

Dan kepada rekan-rekan…yang telah berbagi motivasi..thanks so much…insya Allah persahabatan dengan anda semua…adalah ‘kemenangan’ lain yang saya dapatkan…….

Sebenarnya…..ketika pindah mengajar di kota kecil Siak ( Riau )..saya baru 3 minggu di siak…. Komputer PC saya di jakarta tak bisa terbawa….. Jadi, kemarin saya publish di detik.com pengalaman kecil saya…dengan berdo’a ..utnuk ikhtiar mendapat Net book…he he..karena hidup tanpa komputer dan net membuat saya …’pusing’….. tapi subhanallah ….karya pak beno..patut mendapat acungan jempol…dan beliau layak mendapatkannya….

Yah begitulah….saya hanya bisa on line ketika di sekolah…dengan bekal flash hallo bawaan dari jakarta…kalo tak ada flash….bakal hampa dunia saya…. di sekolah kami listrik sering mati…maklum maklum…..jatah lsitrik masih limited…so, saya terus berdo’a ya Allah…I need laptop biar bisa OL dirumah….

Pun kalo akhirnya saya tidak mendapat lap top dari lomba ini…it’s okey….menjadi salah satu pemenang saja sudah membuat saya ‘terkejut’…..dan bersyukur……

Justru dalam keterbatasan…kadang kita bisa membuat karya…tak terbatas….

Salam hangat,

Nisa

Guru, Jangan Batasi Diri dari Teknologi !

dsc03029 Sekitar dua tahun yang lalu, saat saya sedang mengajar di lab komputer, seorang murid, Afra namanya, mendekati meja dan menyodorkan sebuah bungkusan kepada saya. Afra menyampaikan amanah ibunya untuk saya. Ketika saya buka, ternyata isinya ada disc cleaner, mouse dan selembar kertas. Barang-barang itu tentu sangat bermanfaat untuk lab komputer kami. Saya jadi ingat, ketika Afra harus memakai mouse yang agak macet, karena memang sudah sedikit rusak dan sudah waktunya harus diganti. Namun, pengajuan permintaan mouse perlu proses agak lama di sekolah kami. Mungkin Afra bercerita pada ibunya yang segera menanggapi. Subhanallah. Walau belum bertemu beliau, saya yakin beliau orang yang sangat perhatian terhadap pendidikan anaknya.

Nah, di bungkusan itu ada selembar kertas yang berisi informasi sebuah sayembara menulis pengalaman untuk guru-guru yang mengajar TIK (Teknologi Informasi Komputer). Ketika saya baca, di situ tertera satu milis, yaitu milis Smart Teacher. Untuk mengikuti sayembara tersebut, saya harus mendaftar menjadi anggota milis lebih dahulu. Jujur saya akui, walau guru komputer, saya termasuk jarang berinteraksi dengan internet, apalagi browsing dan menjadi anggota “milis-milisan”. Ternyata kertas sayembara dari Mama Afra menjadi awal saya memotivasi diri dalam berinteraksi dengan teknologi sampai sekarang.

Ada satu kisah yang luar biasa buat saya, kisah ini hadir karena interaksi dengan internet. Ceritanya, setelah menjadi member milis Smart Teacher, saya sering mendapat email-email motivasi atau curhat dalam proses belajar-mengajar. Ada seorang ibu yang sangat rajin mengirim tulisan di milis grup. Dan kata-kata dalam tulisannya benar-benar mencerminkan sosok guru sejati. Sangat memotivasi dan cerdas. Beliau adalah Ibu Siti Maesuri. Selanjutnya saya memanggil beliau “Mbak Siti”. Dibandingkan beliau, saya tidak ada apa-apanya. Uuuh… jauh banget. Membaca perjalanan hidupnya melalui blog dan website-nya, sungguh sarat dengan perjuangan.

Mbak Siti, lahir dari keluarga guru di desa kecil, Pangkep, Makassar, Sulawesi Selatan. Dengan serba keterbatasan ekonomi, orangtuanya tetap semangat mendorong anak-anaknya sekolah. Hal itu memotivasi Mbak Siti untuk berprestasi. Dari SMU beliau sudah mendapat beasiswa. S1 di Makassar beliau lalui dengan beasiswa full, S2 di sebuah universitas di Surabaya juga demikian. Akhirnya beliau menjadi dosen di almamaternya, di Surabaya. Tapi apakah beliau berpuas diri sampai situ saja? Tidak! Beliau tetap semangat mencari ilmu, walau sudah dikarunia 2 putri kecil. Beliau nekad mengikuti seleksi beasiswa S3 untuk Ph.D matematika di Universitas Queensland, Australia, yang didanai AusAid Foundation. Walau bersaing dengan ribuan orang, Mbak Siti tetap tegar melangkah dengan penuh keyakinan. Alhamdulillah…, Allah berkenan dan mengijinkan Mbak Siti mendapatkan beasiswa itu. Sebuah prestasi luar biasa yang patut diacungi dua jempol!

Namun apakah segalanya begitu mudah beliau lalui? Tentu saja tidak. Enam bulan pertama, Mbak Siti terpaksa berpisah dengan putri kecilnya, karena harus ikut kursus bahasa Inggris di Bali lebih dahulu. Dengan dukungan suami dan keluarganya, Mbak Siti mantap melangkah. Di hatinya hanya ada tekad, berangkat ke negeri orang untuk menjadi Guru dan demi guru-guru di negeri tercinta. Sungguh sebuah cita-cita mulia, yang menuntunnya menjadi makin berprestasi.

Tibalah kini waktu keberangkatan ke Australia. Sendirian Mbak Siti pergi, tanpa didampingi suami dan anak-anaknya, yang baru bisa menyusul tiga bulan berikutnya. Bisa dibayangkan, bagaimana perasaan Mbak Siti dan keluarganya saat itu, berpisah ribuan kilometer dan dalam waktu yang tidak sebentar.

Ketika tahun ketiga di Queensland, Mbak Siti mendapat tugas menemani dua profesor matematika Australia untuk menghadiri konferensi nasional matematika di Bandung. Mereka adalah Prof. Robyn Anderson dan Pof. Merlyn, dua pejuang pendidikan di Australia. Inilah awal pertemuan kami.

Pada sore hari, telepon di rumah Bapak tempat saya ngekos berdering. Ada wanita yang bernama Siti dari Australia, ingin bicara dengan saya. Hati saya dag dig dug. Apa Mbak Siti yang di milis itu? Masak iya…, ada apa ya? Saya bertanya-tanya dalam hati. Selama ini saya selalu menganggap berteman atau berkenalan di internet adalah maya. Tidak nyata. Tapi setelah mendengar sendiri suara beliau, ternyata benar. Itu Mbak Siti! Subhanallah…. Terdengar sapa lembut di seberang telepon. Beliau adalah orang yang sangat saya kagumi, yang menjadi motivator tak langsung bagi saya untuk kuliah lagi, dan sekarang sedang menelepon saya! Perasaan saya campur aduk, antara senang dan bangga. (Norak benget ya? Hehehehehe….).

Mbak Siti berkata, sedang mendampingi profesornya di Bandung, dan beliau punya rencana untuk mampir ke Jakarta, menemui dan memperkenalkan profesornya pada guru-guru. Beliau menawarkan amanah, maukah saya menjadi Event Organizer (EO) selama beliau di Jakarta. Subhanallah…, mimpi apa ya, kok beliau begitu percaya pada saya? Menjadi EO acara besar, kira-kira bisa nggak ya?

Akhirnya saya bawa tawaran Mbak Siti ke sekolah, sebelumnya memang teman-teman dan sekolah sudah tidak asing dengan sosok beliau, karena saya sering menempelken tulisan beliau di mading sekolah. Sekolah saya sangat terbuka untuk menerima kedatangan beliau dan Prof. Anderson. Kami pun membentuk panitia kecil untuk penyambutan dan workshop. Menjadi hal yang sangat amazing buat saya, saat menjemput di bandara Soekarno-Hatta. Kami yang belum saling tatap muka, hari ini akan bertemu. Sungguh ini menjadi hari yang sangat istimewa buat saya.

Seteleh menunggu beberapa saat, tampak seorang wanita berjilbab rapi, diapit dua orang “turis” yang sudah cukup usia. Dan ternyata, itulah Mbak Siti Maesuri! Teman maya yang menjadi nyata. Guru dan dosen jarak jauh saya. Subhanallah…. Saya bahagia. Sangat bahagia.

Dengan senang hati kami mengantar tamu istimewa kami itu ke hotel. Sepanjang jalan saya hanya terdiam, bingung mau bicara apa. Hehehehehe…. Hari pertama, Mbak Siti dan Mrs. Anderson ( Profesor dari australia ) berkenalan dan ramah tamah dengan guru-guru di sekolah, dilanjutkan dengan keliling Jakarta. Pada waktu itu, Bu Sely dan Bu Dewi, dari yayasan sekolah, yang menyetir mobil, mengantar dua tamu istimewa kami itu. Lalu hari kedua, diundanglah sekolah-sekolah di daerah kami untuk mengikuti workshop matematika yang langsung diisi Mrs. Anderson dan penerjemahnya adalah Mbak Siti.

Alhamdulillah…. Acara berjalan dengan baik dan lancer. Teknologi telah mengantarkan saya berjumpa dengan orang-orang istimewa seperti Mbak Siti dan Mrs. Anderson. Dunia maya telah membawa mereka ke dunia nyata, dan manfaatnya tidak hanya saya rasakan sendiri, tapi sekolah dan guru-guru juga bisa ikut berinteraksi.

Jadi, jangan pernah mengabaikan teknologi. Internet bisa juga menjadi sarana menyambung silahturahim. Ketika tangan tak bisa saling menjabat, namun kabar dan cerita tetap bisa menjadi pengerat persahabatan. Di manapun sahabat kita berada, Austalia, Amerika, Arab atau di belahan bumi yang paling jauh sekalipun, teknologi internet bisa membantu kita berkomunikasi.

Saya yakin, teman-teman mempunyai cerita lebih seru selama bercengkerama dengan internet. Yuk, kita manfaatkan untuk upgrade diri. Bersama-sama, kita ajak murid-murid kita menemukan kebaikan padanya, antaranya pengetahuan, silaturahim dan persahabatan. Kita yang harus mengenalkannya pada anak-anak didik kita, jangan biarkan mereka belajar sendiri tanpa arahan kita, guru atau orang mereka. Tanpa nasehat kita, mereka bisa terjerembab memanfaatkan teknologi untuk hal-hal yang mubazir atau kenistaan dunia pornografi. Jiwa muda mereka yang serba ingin tahu, tak akan pernah terbendung. Mereka memburu pengetahuan dan ilmu-ilmu baru. Saya yakin, murid yang cerdas dan cukup bekal dari gurunya, akan bisa menyaring informasi yang diperlukan, dan mana yang harus dibuang. Para siswa kita sudah cukup dewasa menyikapinya.