Guru, Jangan Batasi Diri dari Teknologi !
Sekitar dua tahun yang lalu, saat saya sedang mengajar di lab komputer, seorang murid, Afra namanya, mendekati meja dan menyodorkan sebuah bungkusan kepada saya. Afra menyampaikan amanah ibunya untuk saya. Ketika saya buka, ternyata isinya ada disc cleaner, mouse dan selembar kertas. Barang-barang itu tentu sangat bermanfaat untuk lab komputer kami. Saya jadi ingat, ketika Afra harus memakai mouse yang agak macet, karena memang sudah sedikit rusak dan sudah waktunya harus diganti. Namun, pengajuan permintaan mouse perlu proses agak lama di sekolah kami. Mungkin Afra bercerita pada ibunya yang segera menanggapi. Subhanallah. Walau belum bertemu beliau, saya yakin beliau orang yang sangat perhatian terhadap pendidikan anaknya.
Nah, di bungkusan itu ada selembar kertas yang berisi informasi sebuah sayembara menulis pengalaman untuk guru-guru yang mengajar TIK (Teknologi Informasi Komputer). Ketika saya baca, di situ tertera satu milis, yaitu milis Smart Teacher. Untuk mengikuti sayembara tersebut, saya harus mendaftar menjadi anggota milis lebih dahulu. Jujur saya akui, walau guru komputer, saya termasuk jarang berinteraksi dengan internet, apalagi browsing dan menjadi anggota “milis-milisan”. Ternyata kertas sayembara dari Mama Afra menjadi awal saya memotivasi diri dalam berinteraksi dengan teknologi sampai sekarang.
Ada satu kisah yang luar biasa buat saya, kisah ini hadir karena interaksi dengan internet. Ceritanya, setelah menjadi member milis Smart Teacher, saya sering mendapat email-email motivasi atau curhat dalam proses belajar-mengajar. Ada seorang ibu yang sangat rajin mengirim tulisan di milis grup. Dan kata-kata dalam tulisannya benar-benar mencerminkan sosok guru sejati. Sangat memotivasi dan cerdas. Beliau adalah Ibu Siti Maesuri. Selanjutnya saya memanggil beliau “Mbak Siti”. Dibandingkan beliau, saya tidak ada apa-apanya. Uuuh… jauh banget. Membaca perjalanan hidupnya melalui blog dan website-nya, sungguh sarat dengan perjuangan.
Mbak Siti, lahir dari keluarga guru di desa kecil, Pangkep, Makassar, Sulawesi Selatan. Dengan serba keterbatasan ekonomi, orangtuanya tetap semangat mendorong anak-anaknya sekolah. Hal itu memotivasi Mbak Siti untuk berprestasi. Dari SMU beliau sudah mendapat beasiswa. S1 di Makassar beliau lalui dengan beasiswa full, S2 di sebuah universitas di Surabaya juga demikian. Akhirnya beliau menjadi dosen di almamaternya, di Surabaya. Tapi apakah beliau berpuas diri sampai situ saja? Tidak! Beliau tetap semangat mencari ilmu, walau sudah dikarunia 2 putri kecil. Beliau nekad mengikuti seleksi beasiswa S3 untuk Ph.D matematika di Universitas Queensland, Australia, yang didanai AusAid Foundation. Walau bersaing dengan ribuan orang, Mbak Siti tetap tegar melangkah dengan penuh keyakinan. Alhamdulillah…, Allah berkenan dan mengijinkan Mbak Siti mendapatkan beasiswa itu. Sebuah prestasi luar biasa yang patut diacungi dua jempol!
Namun apakah segalanya begitu mudah beliau lalui? Tentu saja tidak. Enam bulan pertama, Mbak Siti terpaksa berpisah dengan putri kecilnya, karena harus ikut kursus bahasa Inggris di Bali lebih dahulu. Dengan dukungan suami dan keluarganya, Mbak Siti mantap melangkah. Di hatinya hanya ada tekad, berangkat ke negeri orang untuk menjadi Guru dan demi guru-guru di negeri tercinta. Sungguh sebuah cita-cita mulia, yang menuntunnya menjadi makin berprestasi.
Tibalah kini waktu keberangkatan ke Australia. Sendirian Mbak Siti pergi, tanpa didampingi suami dan anak-anaknya, yang baru bisa menyusul tiga bulan berikutnya. Bisa dibayangkan, bagaimana perasaan Mbak Siti dan keluarganya saat itu, berpisah ribuan kilometer dan dalam waktu yang tidak sebentar.
Ketika tahun ketiga di Queensland, Mbak Siti mendapat tugas menemani dua profesor matematika Australia untuk menghadiri konferensi nasional matematika di Bandung. Mereka adalah Prof. Robyn Anderson dan Pof. Merlyn, dua pejuang pendidikan di Australia. Inilah awal pertemuan kami.
Pada sore hari, telepon di rumah Bapak tempat saya ngekos berdering. Ada wanita yang bernama Siti dari Australia, ingin bicara dengan saya. Hati saya dag dig dug. Apa Mbak Siti yang di milis itu? Masak iya…, ada apa ya? Saya bertanya-tanya dalam hati. Selama ini saya selalu menganggap berteman atau berkenalan di internet adalah maya. Tidak nyata. Tapi setelah mendengar sendiri suara beliau, ternyata benar. Itu Mbak Siti! Subhanallah…. Terdengar sapa lembut di seberang telepon. Beliau adalah orang yang sangat saya kagumi, yang menjadi motivator tak langsung bagi saya untuk kuliah lagi, dan sekarang sedang menelepon saya! Perasaan saya campur aduk, antara senang dan bangga. (Norak benget ya? Hehehehehe….).
Mbak Siti berkata, sedang mendampingi profesornya di Bandung, dan beliau punya rencana untuk mampir ke Jakarta, menemui dan memperkenalkan profesornya pada guru-guru. Beliau menawarkan amanah, maukah saya menjadi Event Organizer (EO) selama beliau di Jakarta. Subhanallah…, mimpi apa ya, kok beliau begitu percaya pada saya? Menjadi EO acara besar, kira-kira bisa nggak ya?
Akhirnya saya bawa tawaran Mbak Siti ke sekolah, sebelumnya memang teman-teman dan sekolah sudah tidak asing dengan sosok beliau, karena saya sering menempelken tulisan beliau di mading sekolah. Sekolah saya sangat terbuka untuk menerima kedatangan beliau dan Prof. Anderson. Kami pun membentuk panitia kecil untuk penyambutan dan workshop. Menjadi hal yang sangat amazing buat saya, saat menjemput di bandara Soekarno-Hatta. Kami yang belum saling tatap muka, hari ini akan bertemu. Sungguh ini menjadi hari yang sangat istimewa buat saya.
Seteleh menunggu beberapa saat, tampak seorang wanita berjilbab rapi, diapit dua orang “turis” yang sudah cukup usia. Dan ternyata, itulah Mbak Siti Maesuri! Teman maya yang menjadi nyata. Guru dan dosen jarak jauh saya. Subhanallah…. Saya bahagia. Sangat bahagia.
Dengan senang hati kami mengantar tamu istimewa kami itu ke hotel. Sepanjang jalan saya hanya terdiam, bingung mau bicara apa. Hehehehehe…. Hari pertama, Mbak Siti dan Mrs. Anderson ( Profesor dari australia ) berkenalan dan ramah tamah dengan guru-guru di sekolah, dilanjutkan dengan keliling Jakarta. Pada waktu itu, Bu Sely dan Bu Dewi, dari yayasan sekolah, yang menyetir mobil, mengantar dua tamu istimewa kami itu. Lalu hari kedua, diundanglah sekolah-sekolah di daerah kami untuk mengikuti workshop matematika yang langsung diisi Mrs. Anderson dan penerjemahnya adalah Mbak Siti.
Alhamdulillah…. Acara berjalan dengan baik dan lancer. Teknologi telah mengantarkan saya berjumpa dengan orang-orang istimewa seperti Mbak Siti dan Mrs. Anderson. Dunia maya telah membawa mereka ke dunia nyata, dan manfaatnya tidak hanya saya rasakan sendiri, tapi sekolah dan guru-guru juga bisa ikut berinteraksi.
Jadi, jangan pernah mengabaikan teknologi. Internet bisa juga menjadi sarana menyambung silahturahim. Ketika tangan tak bisa saling menjabat, namun kabar dan cerita tetap bisa menjadi pengerat persahabatan. Di manapun sahabat kita berada, Austalia, Amerika, Arab atau di belahan bumi yang paling jauh sekalipun, teknologi internet bisa membantu kita berkomunikasi.
Saya yakin, teman-teman mempunyai cerita lebih seru selama bercengkerama dengan internet. Yuk, kita manfaatkan untuk upgrade diri. Bersama-sama, kita ajak murid-murid kita menemukan kebaikan padanya, antaranya pengetahuan, silaturahim dan persahabatan. Kita yang harus mengenalkannya pada anak-anak didik kita, jangan biarkan mereka belajar sendiri tanpa arahan kita, guru atau orang mereka. Tanpa nasehat kita, mereka bisa terjerembab memanfaatkan teknologi untuk hal-hal yang mubazir atau kenistaan dunia pornografi. Jiwa muda mereka yang serba ingin tahu, tak akan pernah terbendung. Mereka memburu pengetahuan dan ilmu-ilmu baru. Saya yakin, murid yang cerdas dan cukup bekal dari gurunya, akan bisa menyaring informasi yang diperlukan, dan mana yang harus dibuang. Para siswa kita sudah cukup dewasa menyikapinya.
Juli 15th, 2009 at 08:39
Hi, this is a comment.
To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.
Juli 15th, 2009 at 10:21
komentar dah….. memang seorang guru gak boleh gaptek…. cayooo guru2 indonesia jangan gaptek yah… ne miswar juga calon guru heheheh ^_^ alias guru TIK
Juli 15th, 2009 at 10:22
iya bener jadi guru gak boleh gaptek….
Juli 15th, 2009 at 11:07
assalamu’alaikum wr.wb. Alhamdulillah,akhirnya saya bisa menemukan cerita2 pengalaman guru, saya jadi termotivasi dan ingin bergabung supaya juga dapat ilmu dari teman2 guru,pemerhati pendidikan, atau apalagi sama mbak siti.mohon bisa dikirimi artikel atau saya harus gabung kemana ya ?.terima kasih.salam kenal.wassalamu’alaikum wr.wb.
Juli 15th, 2009 at 12:08
pak, aku tertarik untuk jadi anggota milis Smart Teacher ini. Ada alamat web-nya? pls info to ikam@lippokarawaci.co.id
Juli 15th, 2009 at 12:32
Tetap Semangat
Juli 15th, 2009 at 14:35
Inilah salah satu sisi positif Internet.
Salam.
Juli 15th, 2009 at 14:46
Kepada Sdri Halida yang saya hormati,
saya sangat tertarik dan tertegun saat membaca Blok anda hari ini, disana tertulis pengalaman sekaligus kenyataan yang hampir tidak dapat dipercaya, dari seorang yang nol pengalaman tentang dunia maya walaupun pengajar TIK sampai akhirnya bisa menjadi seorang EO. Saya amat salut dengan perjuangan sdr. Nasib baik beserta orang-orang yang mau merubah nasibnya sendiri.
Memang sebagai seorang guru harus selalu terbuka dengan adanya Teknologi, sekarang internet sudah merambah masuk ke desa-desa, sekolah-sekolah, tapi tidak semudah itu bagi seorang guru yang memiliki keterbatasan finansial dan skill.
Saya juga seorang guru yang juga memiliki segudang keterbatasan, dan kekurangan, walaupun kita harus tetap berusaha mengejar ketinggalan di bidang teknologi. Untuk itulah saya minta sdr bagi-bagi pengalaman dengan saya, bagaimana menjadi anggota MILIS sehingga dapat berbagi pengalaman dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan anak didik kita, bangsa yang tercinta ini.
Terimakasih, semoga tulisa saya ini bisa menjalin tali silaturahim diantara para pendidik dan kurang lebihnya maaf yang sebesar-besarnya.
Wassalam
Anto, BALI
Juli 15th, 2009 at 19:08
Aduh, saya paling gemas dengan guru yang tidak mau belajar internet. Ada saja alasan mereka:
1. Aku tidak punya komputer di rumah.
2. Dulu pernah belajar, tapi sekarang lupa lagi.
3. Aku nggak perlu belajar internet, kan lima tahun lagi aku pensiun.
4. Kolegaku juga gaptek, tapi dia lulus sertifikasi aja tuh.
Guru kan pembuka ilmu buat muridnya, masa’ guru tidak mau lagi belajar ilmu baru? Mudah-mudahan guru-guru sekarang mau mengubah paradigma berpikirnya ke arah positif ya..
Juli 16th, 2009 at 06:59
Artikel yang bagus…mengupas salah 1 menfaat teknologi (khusunya Internet)…
Sukses n salam kenal…
Juli 16th, 2009 at 08:52
sebaiknya guru terus belajar juga termasuk IT biar tdk gaptek, jika memungkinkan yaa melanjutkan studi lagi agar pengetahuan bertambah, good luck semoga sukses para guru
Juli 16th, 2009 at 08:59
Membaca tulisan ini saya menjadi semakin termotivasi untuk terus belajar dan belajar tentang teknologi terkini. Terima kasih mbak Halida.
Salam Persahabatan
wijaya kusumah guru TIK SMP Labschool Jakarta
http://wijayalabs.blogdetik.com
http://wijayalabs.wordpress.com
Juli 16th, 2009 at 10:02
Salam Kenal ..semua.
kami bahagia masih banyak guru2 yang bangga terhadap profesinya dan Salud dengan usahanya dalam menuntut ilmu dan dengan obsesi yang sangat sederhana dan mulia yaitu menjadi pendidik .
Juli 16th, 2009 at 13:37
subhanallah, saya merinding membaca pengalaman anda yang begitu menakjubkan, mengingatkan saya sebagai guru.
Juli 16th, 2009 at 13:46
Sungguh menyentuh kisahnya, senang sekali saya membaca cerita seperti ini. Benar sekali para guru harus lebih akrab kepada kemajuan teknologi, selamat mengajar Pak Guru.., salam kenal
Juli 16th, 2009 at 14:28
sepakat:
“….
Yuk, kita manfaatkan untuk upgrade diri. Bersama-sama, kita ajak murid-murid kita menemukan kebaikan padanya, antaranya pengetahuan, silaturahim dan persahabatan.”
Juli 16th, 2009 at 17:44
guru-guru kehidupan kita bisa datang dari mana saja….siapa saja…. terus bekarya ibu/bapak guru
Juli 16th, 2009 at 20:14
Ya….. ukhty ana se7 dengan opini ukhty, internet jangan dilihat dari sisi negatifnya tapi juga positifnya. semua hal di dunia ini ada dua sisi plus minus. tinggal bagaimana kita mau pilih. Faktor utama yang menentukan adalah bagaimana kita mendampingi para siswa dalam apresiasi internet. ibarat pisau, tinggal pemakainya untuk melukai diri sendiri atau untuk keamanan diri dan alat memotong dalam aktifitas yang bermanfaat? OK ana guru juga walau tidak sepandai ukhty. setidaknya ana berkomunikasi dan berdialog dengan internet sudah mahiiiiiiiir hingga anak cucu semua hobi ngenet. Syukron!
Juli 16th, 2009 at 21:33
Mudah-mudahan artikel ini bisa dibaca guru-guru lain di Indonesia. Dan, selamat dan sukses buat mbak.
Juli 17th, 2009 at 02:18
Submit tulisan anda di Kombes.Com Bookmarking, Agar member kami vote tulisan anda. Silakan submit/publish disini : http://kombes.com/browse_links.php Semoga bisa lebih mempopulerkan blog/tulisan anda!
Kami akan sangat berterima kasih jika teman blogger meberikan sedikit review/tulisan tentang Kombes.Com Bookmarking pada blog ini.
Salam hormat
http://kombes.Com
Juli 17th, 2009 at 08:50
Awrwb, salam kenal mbak, nice posting loh
saya ijin copas untuk milis civitas Nurul Fikri Depok yah, jazakilah khoyr, wslm.
Juli 17th, 2009 at 14:41
Hi all
I like Your website. It is very interesting. Do You have RSS I want to add to my favorites.
Let me know when it will be ready. Kee it UP.
See You O Szczecin Hotele
Juli 31st, 2009 at 11:33
Walaikum salam mbak…silahkan jika bisa membawa manfaat…..salam sahabat
Juli 31st, 2009 at 11:34
Terima kasih Pak Johan……sekarang saya di Riau…di kita kecil ditengah hutan….saya mengajar IT juga..tunggu cerita selanjutnya ya..salam persahabatan
Juli 31st, 2009 at 11:36
Ya Ustadz…..dunia tekhnologi begitu mudah memasuki jiwa anak kita…dan ‘kita’ semoga kita bisa mengambil lebih banyak manfaat dan meminimalkan madharatnya. amin….
Juli 31st, 2009 at 11:36
terima kasih pak Mudha….. menjadi karya yang bermanfaat
Juli 31st, 2009 at 11:37
salam kenal juga Pak diandono…..kisah yang saya tulis itu hanya 1 dari sekian banyak kisah para guru…ada satu buku yang saya tulis tentang pengalaman mengajar juga….moga-moga ada penerbit yang bisa menerbitkan…amin
Juli 31st, 2009 at 11:40
Alhamdulillah mbak yayah….. DUnia pendidikan telah menyentuh saya…dan tak ingin saya tinggalkan
Juli 31st, 2009 at 11:56
Assalamualaikum pak….syukran atas apresiasinya….. insya’allah nanti akan saya kirim link-nya…kita belajar bersama ya pak….
Wassalam
Juli 31st, 2009 at 17:41
[...] Herawati 2. Anthony Jayanto T. 3. Dani Ardiansyah 4. arista budiyono 5. Jon Riah Ukur, SE 6.Anisa Fitri Nurhalida 7. Mustika Rahmathya 8. Rita Maasi 9. Weka Swasti Wardhani 10 Alif Teguh Imam [...]
Juli 31st, 2009 at 19:07
Kebanyakan guru males menambah/mengembangkan ilmunya, makanya sekarang banyak murid yg lebih pinter dari gurunya, terutama dalam bidang teknologi.
Juli 31st, 2009 at 21:17
slamat ya…menang nih…salam kenal…
Agustus 1st, 2009 at 06:58
Selamat ya, semoga makin memacu semangat sebagai guru.
Salam.
Agustus 1st, 2009 at 07:33
Selamat ya, atas kemenangannya. Moga makin sukses!
Agustus 2nd, 2009 at 23:53
Hello,
Interesting, I`ll quote it on my site later.
Have a nice day
Agustus 3rd, 2009 at 08:58
Alhamdulillah kak jonru….ga nyangka kok menang..padahal banyak yang lebih bagus…..
Agustus 3rd, 2009 at 08:59
Makasih pak munadi……insya allah akan terus semangat….menulis dan menulis
Agustus 3rd, 2009 at 09:00
Thanks…bener-benar ga nyangka……
Agustus 3rd, 2009 at 09:01
Thanks detik.com….i’ll always….keep my spirit for teaching
Agustus 5th, 2009 at 10:12
selamat ya… salam
Agustus 6th, 2009 at 16:58
sekarang kewajiban guru harus bisa internet dan juga ngeblog ato bahkan ngejunk selamat ya bu n teruslah berkarya disini
Agustus 14th, 2009 at 08:11
[...] Herawati 2. Anthony Jayanto T. 3. Dani Ardiansyah 4. arista budiyono 5. Jon Riah Ukur, SE 6.Anisa Fitri Nurhalida 7. Mustika Rahmathya 8. Rita Maasi 9. Weka Swasti Wardhani 10 Alif Teguh Imam [...]